Genre : Romance
Cast : Nana, Luhan, Kris, etc
Length : Chapter
Rating : General
~Happy Reading~
“Tapi apa kau memikirkan perasaan Nana? Apa kau memikirkannya?! Apa kau mengingat cahaya matanya
setiap bercerita tentang namjachingunya! Apa kau ingat bahwa dia punya hak untuk menentukan siapa yang akan dia nikahi!”
Appa dan umma tahu bahwa aku mempunyai pacar namanya Luhan Oppa dan aku sama dia saling mencintai.
Appa terdiam
“Baiklah…..” umma berbicara dengan suara yang lebih lemah
“Kalau kau masih berkeras menikahkan Nana dengan lelaki pilihan appa. Lebih baik kita berpisah”
Deg! Apa lagi ini?! Apa belum cukup kemungkinan bahwa aku harus menikah dengan terpaksa?! Sekarang aku harus menerima kemungkinan perceraian orang tuaku karena diriku, apa ada yang lebih buruk?
Kakiku terasa lemas.
Hatiku mendadak terasa hampa, tak ada perasaan senang, sedih ataupun keinginan untuk menangis.
Aku seperti manusia yang baru dibukakan pintu setelah terkurung sejak lahir di suatu tempat.
Mendadak harus menghadapi dunia luar yang bahkan tidak pernah bisa ia bayangkan.
Perasaanku seperti mata manusia itu saat ia melangkahkan kaki pertama kali di dunia luar.
Hampa… Kosong…
Tiba-tiba pintu terbuka. Eomma hendak keluar dengan tampang marah, namun ekspresinya langsung berubah melihatku sendu.
Kualihkan pandangan ke tempat appa berada. Appa bahkan memalingkan pandangan seperti tidak berani melihatku. Tidak pernah kulihat appa dan eomma bertengkar.
Tidak pernah pula kulihat appa sesedih itu.
Aku kembali melihat eomma dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Eomma hanya terdiam. Aku beranjak pergi ke kamarku tanpa mengucap sepatah katapun.
Sesampainya di kamar. Aku langsung pergi tidur tanpa berganti baju. Berharap segera terbangun dan tersadar dari mimpi buruk ini.
~~Skip~~
Hari ini kulewati tanpa berbicara sepatah katapun pada appa dan eomma. Mereka juga tidak mengungkit-ungkit masalah kemarin. Namun apa yang terjadi di dalam diriku tidak seperti itu. Tentu saja tidak mungkin se-sunyi suasana rumahku.
Hatiku terus bergemuruh. Aku ditempatkan pada posisi harus memilih mengorbankan kebahagiaan yang selama ini aku impikan untuk bisa hidup bahagia bersama orang yang aku cintai. Atau mengorbankan hubungan orang tua yang sangat aku cintai dengan bertindak egois mempertahankan keinginanku.
Hari ini aku akan pergi berkencan dengan Luhan oppa,
oppa mengatakan bahwa ini sebagai ganti kencan kemarin yang berlangsung terlalu singkat.
Tentu seharusnya aku bahagia bisa bertemu dengannya lagi.
Luhan oppa mungkin satu-satunya yang bisa menjadi alasanku tertawa di situasi yang benar-benar memojokkanku seperti ini.
Biasanya aku di rumah saja sambil menunggu oppa menjemputku. Namun wajah eomma dan appa benar-benar semakin membuat berat pikiran dan perasaanku. Dengan perasaan sesak kuputuskan untuk menunggu oppa di cafe yang terletak di dekat rumah.
Segera kukirim pesan singkat untuk oppa
"Oppa, aku tunggu di cafe Coffe bean."
Tidak lama Luhan Oppa membalas pesan singkat yang ku kirim.
"Yak! Apa kau terlalu lapar sampai tidak bisa menungguku Tadi malam kan kau sudah makan apa kau mendadak menjadi seekor badak saat kencan?!"
Aku tergelak membaca balasannya.
Hm,… Bisa-bisanya ia membuatku tertawa di saat seperti ini.
"Oppa terlalu lama berdandan. Aku jadi kelaparan."
Ia membalas
"Yak! Untuk apa aku berdandan. Tanpa berdandan pun kau pasti terpesona dan rela mati demi aku. Lagipula aku sudah di daerah rumahmu. Mungkin 5 menit lagi sudah sampai."
Kubalas
"Sudah jangan cerewet. Cepat datang kesini "
Tanpa kusadari air mataku menggenang. Dadaku sesak memikirkan semuanya, perasaanku sakit. Aku menangis dalam diam. Aku kembali teringat pada pertengkaran appa dan eomma tadi malam. Perasaanku semakin berat. Aku tidak ingin mengorbankan masa depanku dengan pria yang tidak pasti. Tapi aku juga tidak ingin berdiam diri menjadi alasan orang tuaku untuk bercerai. Eothokke? Aku Berusaha menahan agar orang lain tidak menyadari kesedihanku.
Tanpa kusadari air mataku menggenang. Dadaku sesak memikirkan semuanya, perasaanku sakit.
Aku menangis dalam diam. Aku kembali teringat pada pertengkaran appa dan eomma tadi malam.
Perasaanku semakin berat. Aku tidak ingin mengorbankan masa depanku dengan pria yang tidak pasti. Tapi aku juga tidak ingin berdiam diri menjadi alasan orang tuaku untuk bercerai. Eothokke? Aku Berusaha menahan agar orang lain tidak menyadari kesedihanku.
“Wae?” tiba-tiba oppa sudah berdiri didepanku dan menatapku khawatir.
Aku terkaget, kulihat oppa dengan tatapan lemah. Tiba-tiba aku teringat sesuatu….. yang terpenting.
Perasaannya… Perasaan Luhan oppa.
Bagaimana dengannya jika yang terjadi adalah aku akan menikah dengan pria pilihan hal-abeoji? Apakah ia akan bisa melupakanku? Atau justru ia akan menjadi pihak yang paling tersakiti bahkan melebihi diriku?
Demi tuhan ini pertama kalinya aku ingin dia melupakanku.
Tangisanku meledak, untuk saat ini aku hanya ingin menumpahkan seluruh kekesalanku. Dan aku tahu dia orang yang tepat. Aku berdiri lalu memeluknya sambil menangis keras. Dia yang terkejut hanya bisa memelukku erat, menenangkanku, tanpa berbicara sepatah katapun.
~Luhan POV~
Kami sedang berada di mobil sekarang, dia sudah menceritakan apa yang terjadi. Jujur kuakui aku bingung harus berkata apa. Aku juga merasakan sakit, aku sudah terlalu mencintai Nana dan sekarang aku harus melepasnya apakah bisa?
“Aku harus bagaimana oppa?” ia menunduk, tampak sekali kesedihan di wajah manisnya
“Kenapa tidak kau bicarakan saja dengan ahjusshi, dia tidak mungkin memaksakan kehandak, aku tahu ahjusshi” aku pegang kedua tangan Nana, aku mencoba buat menahan amarah ku dan mencoba untuk meyakinkan Nana.
“Appa sayang sekali dengan hal-abeoji, meskipun appa berhenti memaksaku, aku tahu appa akan sangat sedih bila tak bisa memenuhi permintaan hal-abeoji yang mungkin adalah permintaan terakhirnya. Aku juga sayang hal-abeoji, ingin membahagiakannya. Aku juga sangat menyayangi appa dan eomma, aku rela mati demi mereka. Mana bisa aku membiarkan mereka berpisah gara-gara keegoisanku?” ia bercerita dengan air mata mengalir deras.
“Lalu bagaimana dengan aku?” aku memukul setir dengan keras,
akhirnya amarah yang sejak tadi kutahan keluar mengacak-acak rambutku kasar,
tak bisa menyembunyikan kefrustasianku. Membayangkan dirinya harus menjadi milik orang lain benar-benar membuatku gila!!!
Hyeri mendongakkan kepalanya, menatap frustasi pada atap mobil.
“Jujur saja…” ia mendesah “Itu pertimbangan paling berat.” Ia memeluk lenganku erat.
“…” aku diam.
“Untuk membayangkan harus hidup tanpa oppa rasanya seperti harus mencabut nyawaku sendiri…” ucap Nana dapat kurasakan lenganku yang basah karena air matanya dan aku hanya terdiam.
Kuraba kotak cincin yang tadi kupersiapkan. Hancur sudah rencanaku melamar dan memilikinya selamanya.
Andai saja aku satu hari lebih cepat……
“Oppa….” ucapnya mendadak
“Hmm”
“Sepertinya aku sudah memutuskan harus bagaimana…”
Ia melepaskan rengkuhannya pada tanganku dan menatapku mantap
“Boleh aku minta satu permintaan oppa?” suaranya terdengar lebih tegas dari waktu tadi
“hmm,, Apapun akan aku lakukan” Aku menjawab dengan ragu
“Cium aku….”
Deg!
Aku terdiam sejenak.
Pikiran, perasaan maupun tubuhku tak bisa menolak permintannya.
Perlahan kudekatkan wajahku pada Nana. Dia hanya menutup mata.
Akupun menutup mataku. Kurengkuh tengkuknya secara lembut dan mempertemukan bibir kami berdua.
Kulumat bibirnya lembut seakan tak ingin kulepaskan lagi. Tanpa kusadari aku justru merengkuh punggungnya semakin mendekat, memperkecil jarak diantara kami. Darahku mengalir deras, jantungku berdebar semakin dan semakin kencang.
Nana memelukku semakin memperkecil jarak.
Tanpa sengaja ia dengan begitu bergairah mendorongku dengan ciumannya hingga punggungku menyentuh pintu mobil.
Yang paling tak terduga adalah Nana bahkan melesakkan lidahnya ke dalam rogga mulutku.
Rasanya aku menjadi gila! Kami pun melakukan french kiss dengan begitu liar seakan besok adalah hari kiamat.
Ini adalah ciuman pertama kami. Selama ini Nana begitu menjaga dirinya,
akupun menghargainya dan mau menunggu sampai kami menikah.
Tapi ciuman pertama ini…
Sempurna.
Nana POV
abeoji….
Appa…
Eomma….
Aku rela mati demi mereka.
Luhan Oppa….
Aku rela mati…. dan masuk neraka, asalkan dia bahagia di surga.
Walau dengan yeoja lain yang lebih baik dariku.
Nana POV. End
~~Skip~~
Luhan POV
“NEO MICCHYEOSSO?!!!!” Kulempar barang terakhir yang ada di atas mejaku dengan penuh emosi.
“Bagaimana kau bisa berpikir aku akan bisa berbahagia dengan yeoja lain, hah!!” dengan penuh emosi pula aku mulai melempar barang-barang yang terpajang di dinding.
“Dan kau mengatakannya setelah kita berciuman!! Kau tau?! Rasanya seperti kau telah membawaku ke surga paling atas
lalu menghempaskanku dengan sangat keras dan tanpa perasaan ke neraka paling bawah!!”
Kuhempaskan tubuhku di kasur, tak peduli dengan keadaan rumahku yang seperti kapal pecah.
Hatiku jauh lebih hancur, remuk.
Bagaimana bisa ia memutuskan untuk menerima pernikahan itu? Apa dia tidak tahu aku bisa gila jika harus hidup tanpanya? Doesn’t she know I’m crazy about her?!
Bagaimanapun aku harus menerima keputusan sulit yang telah ia buat. Aku harus paham bahwa ia mengorbankan dirinya sendiri untuk ini. Tapi tak bisa kupungkiri… aku benar-benar marah!!!
Aku sedikit kecewa namun apakah aku ingin memaksakan apa yang Nana sudah putuskan.
Nana POV
“Maafkan aku oppa. Aku harap oppa segera mendapatkan yeoja yang lebih baik dariku.” Gumam ku
Aku berjalan sendirian menyusuri jalan yang dulu sering kami lewati bersama-sama.
Kemarin aku sudah bilang pada appa bahwa aku mau menikah dengan pria yang diinginkan hal-abeoji, appa bahkan menentukan hari ini kami akan bertemu, arrrggghhh.
Kemarin juga hari yang sama aku memutuskan untuk berpisah dengan Luhan oppa. Semuanya begitu menyakitkan untukku,
tapi aku tahu, Luhan oppa adalah pihak yang paling tersakiti sekarang. Karena itulah aku memberinya ciuman pertama sekaligus terakhir kami sebelum berpisah. Sungguh, sekarang aku berharap oppa bisa segera mendapatkan kebahagiannya sendiri.
Jujur, aku masih sulit percaya dengan apa yang terjadi beberapa hari ini.
Dua hari yang lalu aku masih bersama Luhan oppa, sedangkan sekarang aku sudah harus menikah dengan pria yang bahkan belum aku kenal. Akupun Tau namanya saja tidak.
Apakah aku terlalu terburu-buru mengambil keputusan?
Aku hanya tidak ingin terlambat dan mengakibatkan perpisahan orang tuaku.
Aku hanya…
Mwo! Itu seperti Luhan oppa. Dia sedang duduk di bangku taman yang dulu sering kami duduki bersama. Dan ia dengan seorang ….. yeoja.
Deg!
Tak terasa sebutir air mengalir di pipi ku sebegitu cepatkah oppa,
Apakah secepat itu oppa melupakanku? Aku kira oppa akan merasa tersakiti oleh keputusanku.
Hiks… hiks… Air mataku terus keluar tanpa dapat bisa kucegah.
Aku lalu bersembunyi di balik pohon agar mereka tidak menyadari ada seorang yeoja, menangis, sedang memperhatikan mereka. Dan tebak apa yang terjadi selanjutnya?
Mereka berciuman!!!
Tanpa kusadari air mataku mengalir semakin deras.
Bukankah ini bukankan aku yang berharap Luhan oppa segera menemukan yeoja yang terbaik baginya dan
mungkin yang lebih baik dariku? Tapi kenapa hatiku begitu sakit saat kutahu dia dengan begitu cepat menemukan penggantiku?
Cukup, aku tak mampu lagi melihat mereka. Aku segera pergi berlari meninggalkan tempat itu dengan hati hancur.
Aku berlari dan terus berlari tak tentu arah, tak kupedulikan orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh.
Tiba-tiba kusadari aku sudah sampai di sini.
Aku menangis dalam diam. Aku kembali teringat pada pertengkaran appa dan eomma tadi malam.
Perasaanku semakin berat. Aku tidak ingin mengorbankan masa depanku dengan pria yang tidak pasti. Tapi aku juga tidak ingin berdiam diri menjadi alasan orang tuaku untuk bercerai. Eothokke? Aku Berusaha menahan agar orang lain tidak menyadari kesedihanku.
“Wae?” tiba-tiba oppa sudah berdiri didepanku dan menatapku khawatir.
Aku terkaget, kulihat oppa dengan tatapan lemah. Tiba-tiba aku teringat sesuatu….. yang terpenting.
Perasaannya… Perasaan Luhan oppa.
Bagaimana dengannya jika yang terjadi adalah aku akan menikah dengan pria pilihan hal-abeoji? Apakah ia akan bisa melupakanku? Atau justru ia akan menjadi pihak yang paling tersakiti bahkan melebihi diriku?
Demi tuhan ini pertama kalinya aku ingin dia melupakanku.
Tangisanku meledak, untuk saat ini aku hanya ingin menumpahkan seluruh kekesalanku. Dan aku tahu dia orang yang tepat. Aku berdiri lalu memeluknya sambil menangis keras. Dia yang terkejut hanya bisa memelukku erat, menenangkanku, tanpa berbicara sepatah katapun.
~Luhan POV~
Kami sedang berada di mobil sekarang, dia sudah menceritakan apa yang terjadi. Jujur kuakui aku bingung harus berkata apa. Aku juga merasakan sakit, aku sudah terlalu mencintai Nana dan sekarang aku harus melepasnya apakah bisa?
“Aku harus bagaimana oppa?” ia menunduk, tampak sekali kesedihan di wajah manisnya
“Kenapa tidak kau bicarakan saja dengan ahjusshi, dia tidak mungkin memaksakan kehandak, aku tahu ahjusshi” aku pegang kedua tangan Nana, aku mencoba buat menahan amarah ku dan mencoba untuk meyakinkan Nana.
“Appa sayang sekali dengan hal-abeoji, meskipun appa berhenti memaksaku, aku tahu appa akan sangat sedih bila tak bisa memenuhi permintaan hal-abeoji yang mungkin adalah permintaan terakhirnya. Aku juga sayang hal-abeoji, ingin membahagiakannya. Aku juga sangat menyayangi appa dan eomma, aku rela mati demi mereka. Mana bisa aku membiarkan mereka berpisah gara-gara keegoisanku?” ia bercerita dengan air mata mengalir deras.
“Lalu bagaimana dengan aku?” aku memukul setir dengan keras,
akhirnya amarah yang sejak tadi kutahan keluar mengacak-acak rambutku kasar,
tak bisa menyembunyikan kefrustasianku. Membayangkan dirinya harus menjadi milik orang lain benar-benar membuatku gila!!!
Hyeri mendongakkan kepalanya, menatap frustasi pada atap mobil.
“Jujur saja…” ia mendesah “Itu pertimbangan paling berat.” Ia memeluk lenganku erat.
“…” aku diam.
“Untuk membayangkan harus hidup tanpa oppa rasanya seperti harus mencabut nyawaku sendiri…” ucap Nana dapat kurasakan lenganku yang basah karena air matanya dan aku hanya terdiam.
Kuraba kotak cincin yang tadi kupersiapkan. Hancur sudah rencanaku melamar dan memilikinya selamanya.
Andai saja aku satu hari lebih cepat……
“Oppa….” ucapnya mendadak
“Hmm”
“Sepertinya aku sudah memutuskan harus bagaimana…”
Ia melepaskan rengkuhannya pada tanganku dan menatapku mantap
“Boleh aku minta satu permintaan oppa?” suaranya terdengar lebih tegas dari waktu tadi
“hmm,, Apapun akan aku lakukan” Aku menjawab dengan ragu
“Cium aku….”
Deg!
Aku terdiam sejenak.
Pikiran, perasaan maupun tubuhku tak bisa menolak permintannya.
Perlahan kudekatkan wajahku pada Nana. Dia hanya menutup mata.
Akupun menutup mataku. Kurengkuh tengkuknya secara lembut dan mempertemukan bibir kami berdua.
Kulumat bibirnya lembut seakan tak ingin kulepaskan lagi. Tanpa kusadari aku justru merengkuh punggungnya semakin mendekat, memperkecil jarak diantara kami. Darahku mengalir deras, jantungku berdebar semakin dan semakin kencang.
Nana memelukku semakin memperkecil jarak.
Tanpa sengaja ia dengan begitu bergairah mendorongku dengan ciumannya hingga punggungku menyentuh pintu mobil.
Yang paling tak terduga adalah Nana bahkan melesakkan lidahnya ke dalam rogga mulutku.
Rasanya aku menjadi gila! Kami pun melakukan french kiss dengan begitu liar seakan besok adalah hari kiamat.
Ini adalah ciuman pertama kami. Selama ini Nana begitu menjaga dirinya,
akupun menghargainya dan mau menunggu sampai kami menikah.
Tapi ciuman pertama ini…
Sempurna.
Nana POV
abeoji….
Appa…
Eomma….
Aku rela mati demi mereka.
Luhan Oppa….
Aku rela mati…. dan masuk neraka, asalkan dia bahagia di surga.
Walau dengan yeoja lain yang lebih baik dariku.
Nana POV. End
~~Skip~~
Luhan POV
“NEO MICCHYEOSSO?!!!!” Kulempar barang terakhir yang ada di atas mejaku dengan penuh emosi.
“Bagaimana kau bisa berpikir aku akan bisa berbahagia dengan yeoja lain, hah!!” dengan penuh emosi pula aku mulai melempar barang-barang yang terpajang di dinding.
“Dan kau mengatakannya setelah kita berciuman!! Kau tau?! Rasanya seperti kau telah membawaku ke surga paling atas
lalu menghempaskanku dengan sangat keras dan tanpa perasaan ke neraka paling bawah!!”
Kuhempaskan tubuhku di kasur, tak peduli dengan keadaan rumahku yang seperti kapal pecah.
Hatiku jauh lebih hancur, remuk.
Bagaimana bisa ia memutuskan untuk menerima pernikahan itu? Apa dia tidak tahu aku bisa gila jika harus hidup tanpanya? Doesn’t she know I’m crazy about her?!
Bagaimanapun aku harus menerima keputusan sulit yang telah ia buat. Aku harus paham bahwa ia mengorbankan dirinya sendiri untuk ini. Tapi tak bisa kupungkiri… aku benar-benar marah!!!
Aku sedikit kecewa namun apakah aku ingin memaksakan apa yang Nana sudah putuskan.
Nana POV
“Maafkan aku oppa. Aku harap oppa segera mendapatkan yeoja yang lebih baik dariku.” Gumam ku
Aku berjalan sendirian menyusuri jalan yang dulu sering kami lewati bersama-sama.
Kemarin aku sudah bilang pada appa bahwa aku mau menikah dengan pria yang diinginkan hal-abeoji, appa bahkan menentukan hari ini kami akan bertemu, arrrggghhh.
Kemarin juga hari yang sama aku memutuskan untuk berpisah dengan Luhan oppa. Semuanya begitu menyakitkan untukku,
tapi aku tahu, Luhan oppa adalah pihak yang paling tersakiti sekarang. Karena itulah aku memberinya ciuman pertama sekaligus terakhir kami sebelum berpisah. Sungguh, sekarang aku berharap oppa bisa segera mendapatkan kebahagiannya sendiri.
Jujur, aku masih sulit percaya dengan apa yang terjadi beberapa hari ini.
Dua hari yang lalu aku masih bersama Luhan oppa, sedangkan sekarang aku sudah harus menikah dengan pria yang bahkan belum aku kenal. Akupun Tau namanya saja tidak.
Apakah aku terlalu terburu-buru mengambil keputusan?
Aku hanya tidak ingin terlambat dan mengakibatkan perpisahan orang tuaku.
Aku hanya…
Mwo! Itu seperti Luhan oppa. Dia sedang duduk di bangku taman yang dulu sering kami duduki bersama. Dan ia dengan seorang ….. yeoja.
Deg!
Tak terasa sebutir air mengalir di pipi ku sebegitu cepatkah oppa,
Apakah secepat itu oppa melupakanku? Aku kira oppa akan merasa tersakiti oleh keputusanku.
Hiks… hiks… Air mataku terus keluar tanpa dapat bisa kucegah.
Aku lalu bersembunyi di balik pohon agar mereka tidak menyadari ada seorang yeoja, menangis, sedang memperhatikan mereka. Dan tebak apa yang terjadi selanjutnya?
Mereka berciuman!!!
Tanpa kusadari air mataku mengalir semakin deras.
Bukankah ini bukankan aku yang berharap Luhan oppa segera menemukan yeoja yang terbaik baginya dan
mungkin yang lebih baik dariku? Tapi kenapa hatiku begitu sakit saat kutahu dia dengan begitu cepat menemukan penggantiku?
Cukup, aku tak mampu lagi melihat mereka. Aku segera pergi berlari meninggalkan tempat itu dengan hati hancur.
Aku berlari dan terus berlari tak tentu arah, tak kupedulikan orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh.
Tiba-tiba kusadari aku sudah sampai di sini.
~~Next~~ http://www.xiuxiumin.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar